Langsung ke konten utama

Postingan

Mandiri dari Rasa Amarah

Hari ini libur dari bekerja. Aku berinisiatif untuk membersihkan kamarku.
Aku naik ke lantai dua di kamarku dengan penuh hati-hati
Aku mencari sapu yang ada di lantai dua.

Loh kok sapunya patah.

Trus pembantuku di rumah bilang kalau kemarin salah satu karyawan di rumah ibuku habis marah besar kepada ibuku.

Hampir saja aku tersulut rasanya tidak terima ibuku dimarahin. Tapi baiklah aku maafkan karena hari ini adalah bulan ramadhan.
Postingan terbaru

Hari Pertamaku Bekerja Tak Lagi Berat

Entah mengapa setiap mulai mengajar ada perasaan berat yang singgah.
Aku tak tahu pastinya mengapa hati ini berat.
Seringkali berpikir untuk resign karena hati semakin tak bergairah ketika bekerja. Ada rasa berat.

Setelah aku analisis, mengapa aku begini?
Aku suka dengan dunia anak-anak
Aku suka mengajarkan mereka belajar Al-Quran dan menghafal Al-Quran
Aku suka berinteraksi dengan anak-anak

Lantas apa yang membuat langkah ini berat?
Ternyata faktor rekan kerja yang membuat diri ini berat.

Setelah seminggu libur di awal ramadhan, hati ini masih berat untuk berangkat bekerja.

Namun, pikiranku aku coba untuk fokus hanya untuk anak-anak. Fokus bekerja untuk anak-anak bukan untuk rekan kerja

Alhamdulillah sedikit lega di hari pertama.

Bebas Baca Buku Setelah Lepas dari distraksi sosial media

Setelah mencoba keluar dari distraksi sosial media memang alhamdulillah hati menjadi lega.
Banyak waktu yang bisa digunakan untuk kegiatan lainnya yakni membaca, menulis hingga membaca dan menghafal Al-Quran

Hari ketiga Ramadhan aku berkutat dengan panjangnya antrian di puskesmas. Hari Rabu aku mengantri di Poli Kesehatan Ibu dan Anak untuk memeriksakan apakah aku memang benar-benar hamil.

Setelah mengambil nomor pada pukul 7 pagi namun baru selesai selepas pukul 11 siang. Melelahkan memang dan hasilnya Alhamdulillah positif hasilnya.

Biasanya waktu menunggu itu aku isi dengan scrolling sosial media, akhirnya aku ganti dengan membaca buku.

Alhamdulillah hampir satu buku selesai sembari menunggu antrian tersebut.

Mandiri dari Distraksi Sosial Media

Seberapa lamakah kita kalau sudah nongkrong di depan sosial media?
Seringnya tak terasa berjam-jam habis cuma untuk scroll feed sosial media saja. Dan akhirnya merasa waktu yang berharga menjadi sia-sia.

Apakah kamu pernah merasakan itu?
Aku pernah! Sepertinya ini sudah menjadi candu. Tangan gatal apabila tidak membuka media sosial barang sejenak.

Ada banyak sekali cerita memukau di feed instagram yang membuat akhirnya down dan malah jadinya membandingkan diri sendiri dengan kehidupan orang lain.

Padahal setiap orang memiliki waktunya masing-masing.

Niatnya awal Ramadhan itu pengen

Less Gadget
Baca Buku Lebih Banyak
Menghafal Al Quran lebih banyak

Namun, ketika hari pertama masih saja buka instagram, kemudian di Hari Ketiga sempat kesiangan karena malamnya buka instagram. Sepertinya memang harus uninstall instagram. Akhirnya saat itu juga aku menguninstall instagram.

Alhamdulillah setelah beberapa hari off dari sosial media hati rasanya tenang.

Mandiri dari Overthinking

Salah satu PR ku adalah mencoba untuk tidak terlalu overthinking.
Soalnya ketika sudah memikirkan suatu hal pasti aku akan berpikir terus menerus yang efeknya berimbas pada kesehatanku.

Belajar dari kegagalan kehamilan kemarin, maka banyak saran untuk tidak memikirkan sebuah permasalahan terlalu dalam. Kata orang dibawa santai aja. Dibawa selow.Tapi itu memang proses ya agar bisa berpikir selow.

Ketika habis tarawih untuk menghilangkan kantuk aku melirik HP sejenak. Tak sengaja aku membaca percakapan ibu dan salah seorang karyawan yang bekerja di tempatku. Ada nada tak mengenakkan disitu dan cenderung menjelekkan suamiku. Aku segera menutup HP itu dan menarik nafas.

Berkata pada pikiran, "Sudah biarkan jangan dipikirkan."

Memang tak langsung hilang begitu saja, kemudian aku coba untuk membaca Al-Quran dan setelah membaca Al-Quran aku tertidur.

Alhamdulillah bisa mandiri dari overthinking

Bebas Takut Diambil Darah

Setelah mencoba tes kehamilan sendiri, maka agar hati makin teryakinkan maka pergilah aku dan suami ke puskesmas untuk cek langsung.
Aku dan suami berangkat pada hari ketiga Ramadhan. Aku masih ingat apa saja yang akan aku jalani nanti ketika pemeriksaan kehamilan ini.

Ya, aku akan berhubungan dengan jarum lagi. Ada rasa ngeri menghantuiku.
Tapi aku kembali dibawa bernostalgia dengan rasa sakit yang pernah kualami beberapa bulan lalu ketika kiret.

"Dear diriku, kau sudah pernah merasakan yang jauh lebih nikmat dibanding jarum suntik yang sejenak mampir. Lihatlah semua itu telah berlalu. Memang seperti inilah fitrah seorang perempuan. Kamu harus berani."

Maka bismillah aku berangkat ke puskesmas.

Dengan antrian yang panjang, aku merasa santai sembari membaca buku sang teman sejati untuk melewati waktu kejenuhan dalam menunggu.

Setelah aku diperiksa dan ditimbang di poli KIA, aku diminta menuju laborat untuk tes Hb dan Hbs Ag.

Deg-degan sebenarnya namun tetap bismillah saja. A…

4 Hari Berpuasa, 4 Hari Tak Jajan di Luar

Alhamdulillah masih bertemu dengan ramadhan tahun ini.
Alhamdulillah Ramadhan ini sudah tak single lagi, ada suami yang mendampingi.
Alhamdulillah tak hanya tamu bulan Ramadhan yang datang namun tamu sang buah hati pun ikut datang.

Setelah proses kehamilan pertama yang memang belum rezeki. Janin tidak berkembang dan terpaksa harus dikiret. Maka kehamilan kedua ini yang datang tanpa disangka-sangka ini menjadi perhatian penuh. Baik dari suami maupun orang tua. Terlebih terkait makanan. Harus lebih hati-hati lagi.

Kalau dulu saat hamil pertama memang makannya masih serampangan. Masih sering jajannya. Namanya juga jajanan di luar, kita gak tau prosesnya dan seringkali dekat dengan bahan-bahan yang tak berfaedah bagi tubuh. Maka di kehamilan sekarang, faktor gizi dan makanan sangat diperhatikan.

Biasanya bulan ramadhan seperti ini kalau sore-sore tak afdhol kalau tak jajan. Berhubung mengurangi resiko yang menghadang di kemudian hari. Maka selama 4 hari berpuasa, 4 hari juga tidak jajan d…