Alhamdulillah sekali sekarang kita hidup di era yang penuh kemudahan. Segalanya hampir setiap lini kehidupan kita sudah dimudahkan dengan adanya teknologi. Menuntut ilmu pun sekarang menjadi lebih mudah karena tinggal ketikkan ilmu apa yang kita cari di gadget kita maka akan langsung muncul bahkan dalam hitungan detik. Alhamdulillah
Kadang tak bisa membayangkan betapa semangatnya para penuntut ilmu pada zaman dahulu. Hanya untuk belajar satu hadits saja harus mengorbankan waktu berbulan-bulan melewati padang pasir untuk bisa menuntut satu hadits tersebut. Berbeda dengan zaman sekarang.
Suami pernah berkata, "Sekarang kita udah dimudahkan banget buat belajar. Tapi kadang kita masih malas untuk belajar. Nanti pas di akhirat gimana kalau kita ditanya malaikat. Kita udah dikasih fasilitas untuk belajar tapi kok tidak dimanfaatkan."
Nah loh, gimana kira-kira kalau nanti kita ditanyai seperti itu di akhirat.
Alhamdulillah setelah menikah aku dapat informasi belajar dari salah satu ustadz sunnah yakni ustadz Abdullah Roy yang punya pembelajaran lewat whatsapp dan web. Nama pembelajarannya Halaqoh Silsilah Ilmiah Abdullah Roy. Disitu setiap pagi kami diberikan audio berupa kajian singkat sekitar 4-5 menit dengan materi tentang Aqidah. Nah di sore hari kami diminta untuk mengerjakan satu soal pilihan ganda untuk evaluasi.
Karena aku yang tahu infonya dahulu maka aku mendaftarkan suamiku juga untuk mengikuti HSI Abdullah Roy. Biar lebih semangat. Aku mendaftar bulan Agustus 2018 sampai bulan Juni ini masih berlangsung. Uniknya aku dan suami saling mengingatkan kalau terlupa mengerjakan evaluasi atau mendengarkan audio pembelajaran. Alhamdulillah menyenangkan bisa saling berlomba dan menyemangati dalam belajar ilmu syar'i.
Kadang tak bisa membayangkan betapa semangatnya para penuntut ilmu pada zaman dahulu. Hanya untuk belajar satu hadits saja harus mengorbankan waktu berbulan-bulan melewati padang pasir untuk bisa menuntut satu hadits tersebut. Berbeda dengan zaman sekarang.
Suami pernah berkata, "Sekarang kita udah dimudahkan banget buat belajar. Tapi kadang kita masih malas untuk belajar. Nanti pas di akhirat gimana kalau kita ditanya malaikat. Kita udah dikasih fasilitas untuk belajar tapi kok tidak dimanfaatkan."
Nah loh, gimana kira-kira kalau nanti kita ditanyai seperti itu di akhirat.
Alhamdulillah setelah menikah aku dapat informasi belajar dari salah satu ustadz sunnah yakni ustadz Abdullah Roy yang punya pembelajaran lewat whatsapp dan web. Nama pembelajarannya Halaqoh Silsilah Ilmiah Abdullah Roy. Disitu setiap pagi kami diberikan audio berupa kajian singkat sekitar 4-5 menit dengan materi tentang Aqidah. Nah di sore hari kami diminta untuk mengerjakan satu soal pilihan ganda untuk evaluasi.
Karena aku yang tahu infonya dahulu maka aku mendaftarkan suamiku juga untuk mengikuti HSI Abdullah Roy. Biar lebih semangat. Aku mendaftar bulan Agustus 2018 sampai bulan Juni ini masih berlangsung. Uniknya aku dan suami saling mengingatkan kalau terlupa mengerjakan evaluasi atau mendengarkan audio pembelajaran. Alhamdulillah menyenangkan bisa saling berlomba dan menyemangati dalam belajar ilmu syar'i.
Seperti biasa hal yang tidak pernah terlupakan oleh manusia zaman sekarang adalah scrolling status di sosial media. Ketika sedang scrolling sosial media yakni di beranda facebook, tiba-tiba mata ini menangkap buku yang menarik dari status seorang teman bernama Dwi Puji Astuti. Buku apakah itu?
Buku itu adalah buku tulisan seorang ustadz yang termasyhur di negeri ini bahkan menjadi salah satu pengajar di Arab Saudi sana. Iya, buku itu adalah tulisan dari hasil karya ustadz Firanda Andirja, MA Hafidzahullah. Buku itu berjudul Tafsir Juz 'Amma. Dalam status kawan tersebut dikatakan bahwa cukup dengan mengganti ongkos cetak sebesar 70.000, pembeli bisa mendapatkan buku tafsir tersebut yang tebalnya kurang lebih 729 halaman. Hati langsung bersemangat buat membeli karena semenjak dulu pengen banget beli buku tafsir Al-Quran. Sayangnya untuk satu set tafsir 30 Juz harganya membuat aku harus menabung dulu.
Aku utarakan deh status ini ke suami. Gayung bersambut, kebetulan suami juga punya cita-cita sama untuk membeli buku tafsir Al Quran. Akhirnya kami order deh satu buku.
Kami menunggu beberapa hari hingga kedatangan buku tersebut. Akhirnya setelah menunggu buku tersebut datang juga. Tak sabar aku membuka buku tersebut. Dan bahagianya ketika membuka isinya. Berasa bertemu kekasih idaman dari dulu :D
Langsung jatuh cinta pada buku ini karena isi buku tersebut mudah untuk dibaca dan dipahami, dilengkapi dengan ilustrasi sehingga tidak membuat pembaca bosan. kadang kalau beli buku agama cuma ada teks dan kadang berdekatan tulisannya sehingga membuat bosan membacanya. Namun buku ini tidak.
Projek keluarga antara aku dan suamiku jadi bertambah yakni membaca buku tafsir. karena hanya membaca Al Quran tanpa paham arti dan tafsir al Quran maka rasanya kurang. Kebetulan di buku tersebut ada dua pita pembatas. Aku dan suami bergantian membacanya setiap hari. Kadang aku di siang hari atau pagi hari, nanti suami membacanya saat habis magrib. Masya Allah dengan membaca buku tersebut bisa menambah pengetahuan tentang Al Quran. Alhamdulillah
Buku itu adalah buku tulisan seorang ustadz yang termasyhur di negeri ini bahkan menjadi salah satu pengajar di Arab Saudi sana. Iya, buku itu adalah tulisan dari hasil karya ustadz Firanda Andirja, MA Hafidzahullah. Buku itu berjudul Tafsir Juz 'Amma. Dalam status kawan tersebut dikatakan bahwa cukup dengan mengganti ongkos cetak sebesar 70.000, pembeli bisa mendapatkan buku tafsir tersebut yang tebalnya kurang lebih 729 halaman. Hati langsung bersemangat buat membeli karena semenjak dulu pengen banget beli buku tafsir Al-Quran. Sayangnya untuk satu set tafsir 30 Juz harganya membuat aku harus menabung dulu.
Aku utarakan deh status ini ke suami. Gayung bersambut, kebetulan suami juga punya cita-cita sama untuk membeli buku tafsir Al Quran. Akhirnya kami order deh satu buku.
Kami menunggu beberapa hari hingga kedatangan buku tersebut. Akhirnya setelah menunggu buku tersebut datang juga. Tak sabar aku membuka buku tersebut. Dan bahagianya ketika membuka isinya. Berasa bertemu kekasih idaman dari dulu :D
Langsung jatuh cinta pada buku ini karena isi buku tersebut mudah untuk dibaca dan dipahami, dilengkapi dengan ilustrasi sehingga tidak membuat pembaca bosan. kadang kalau beli buku agama cuma ada teks dan kadang berdekatan tulisannya sehingga membuat bosan membacanya. Namun buku ini tidak.
Projek keluarga antara aku dan suamiku jadi bertambah yakni membaca buku tafsir. karena hanya membaca Al Quran tanpa paham arti dan tafsir al Quran maka rasanya kurang. Kebetulan di buku tersebut ada dua pita pembatas. Aku dan suami bergantian membacanya setiap hari. Kadang aku di siang hari atau pagi hari, nanti suami membacanya saat habis magrib. Masya Allah dengan membaca buku tersebut bisa menambah pengetahuan tentang Al Quran. Alhamdulillah
Beberapa hari lalu terasa begitu melelahkan bagiku. Namun kelelahan itu berganti dengan kenyamanan ketika aku berada di dekat suamiku.
Lima hari yang lalu aku selalu pulang sore. Sekitar pukul setengah lima. Menjadi pemimpin dalam in house training yang diadakan oleh TK tempatku mengajar cukup menguras energiku. Terlebih lagi aku sedang hamil muda.
Ketika aku dan suamiku pulang ke rumah. Rumah nampak sepi. Para pembantuku telah pulang ke rumahnya masing-masing. Sedangkan ibuku sedang pergi ke Purwokerto. Hawa dingin dan perasaan sepi tiba-tiba menyelinap dalam perasaanku.
Kosongnya rumah ini, rumah sebesar ini hanya ada aku dan suamiku.
Maka aku menuju ke kamarku dan merebahkan badan sejenak. Mengobrol bersama suamiku. Mengobrol macam-macam, termasuk masalah yang sedang menguji kami dan keluarga. Senangnya ketika mengobrol dengan suamiku adalah ia dewasa dalam menanggapi masalah yang ada. Tidak terbawa emosi. Bahkan ketika ada masalah suamiku selalu memberikan pengajaran kepadaku . Seringkali juga suamiku menceritakan kisah Nabi atau kisah Sahabat yang ada kaitannya dalam menangani masalah yang mungkin hampir serupa dengan masalah yang sedang dihadapi.
Alhamdulillah semoga nanti ketika si dedek sudah lahir, suamiku bisa bercerita banyak tentang kisah nabi dan para sahabat yang penuh hikmah itu.
Lima hari yang lalu aku selalu pulang sore. Sekitar pukul setengah lima. Menjadi pemimpin dalam in house training yang diadakan oleh TK tempatku mengajar cukup menguras energiku. Terlebih lagi aku sedang hamil muda.
Ketika aku dan suamiku pulang ke rumah. Rumah nampak sepi. Para pembantuku telah pulang ke rumahnya masing-masing. Sedangkan ibuku sedang pergi ke Purwokerto. Hawa dingin dan perasaan sepi tiba-tiba menyelinap dalam perasaanku.
Kosongnya rumah ini, rumah sebesar ini hanya ada aku dan suamiku.
Maka aku menuju ke kamarku dan merebahkan badan sejenak. Mengobrol bersama suamiku. Mengobrol macam-macam, termasuk masalah yang sedang menguji kami dan keluarga. Senangnya ketika mengobrol dengan suamiku adalah ia dewasa dalam menanggapi masalah yang ada. Tidak terbawa emosi. Bahkan ketika ada masalah suamiku selalu memberikan pengajaran kepadaku . Seringkali juga suamiku menceritakan kisah Nabi atau kisah Sahabat yang ada kaitannya dalam menangani masalah yang mungkin hampir serupa dengan masalah yang sedang dihadapi.
Alhamdulillah semoga nanti ketika si dedek sudah lahir, suamiku bisa bercerita banyak tentang kisah nabi dan para sahabat yang penuh hikmah itu.
Hari Rabu tanggal 19 Juni 2019 adalah hari aku kembali mengunjungi RSUD untuk memenuhi panggilan kontrol ke poli jantung untuk melakukan ekokardiologi, semacam ronsen jantung.
Bayangan yang muncul pertama kali saat malam menjelang keberangkatan ke RSUD yang letaknya di Banjarnegara kota adalah lamanya antrian menunggu. Sudah terbayang dalam benak pengalaman saat ke RSUD beberapa bulan lalu, antrian di poli jantung sangat penuh dan aku tak kebagian tempat duduk.
Ketika esok hari menjelang, aku dan suamiku sudah bersiap semenjak lepas subuh, berniat untuk merilekskan diri dengan memasrahkan semuanya kepada Allah.
"Ya Allah aku pasrahkan hariku padamu, biarkan Allah yang memudahkan." Batinku dalam hati.
Jarak dari rumah ke RSUD sekitar 26 km dan itu membutuhkan waktu perjalanan menggunakan bus mikro selama satu jam. Aku berangkat bersama suamiku, namun suamiku berangkat terlebih dahulu dengan menggunakan sepeda motor. Sedangkan aku naik mikro karena kondisi kehamilanku yang tak bisa diajak perjalanan jauh dengan motor.
Suamiku sampai di RSUD setengah jam lebih awal daripada aku. Aku memperoleh antrian 147 untuk antrian BPJS dan nomor 27 untuk antrian pasien umum. Saat itu aku berniat untuk ke dua poli yakni poli jantung dan psikologi. Sesampainya disana antrian umum sudah menunjukkan angka 29 , maka aku segera ke loket dan segera setelah itu aku bisa langsung dapat ke poli psikologi. Sedangkan ku lihat di antrian BPJS masih nomor 40-an kalau tidak salah. Maka aku bersegera pergi ke poli psikologi.
Sesampainya disana aku dipanggil dan dapat nomor urut pertama. Aku berada di poli psikologi selama setengah jam. Ketika aku balik ke loket antrian BPJS,alhamdulillah nomor antrianku belum dipanggil. kulihat baru sampai nomor 125. Beruntung banget, aku sudah bisa ke poli psikologi dan sekarang saatnya ke poli jantung. Aku hanya menunggu sekitar 15 menit hingga no antrian BPJS ku dipanggil.
Akhirnya, dipanggil juga dan aku diminta untuk tes sidik jari. Waduh tes sidik jari kan biasanya aku paling zonk. karena jariku kering sehingga tidak terdeteksi sidik jariku. Namun alhamdulillah setelah beberapa kali, akhirnya bisa terbaca juga. Lanjut deh aku pergi menuju ke poli jantung. Alhamdulillah bisa dapat tempat duduk karena sepi banget. Aku dapat urutan nomor 15.
Alhamdulillah semua proses di RSUD mudah, aku juga sudah selesai sebelum dhuhur. Alhamdulillah ini berkah memasrahkan segala urusan pada Allah tanpa mengesampingkan usaha. Maka nilai inilah yang nantinya akan aku ajarkan pada bayi yang kini sedang aku kandung.
Bayangan yang muncul pertama kali saat malam menjelang keberangkatan ke RSUD yang letaknya di Banjarnegara kota adalah lamanya antrian menunggu. Sudah terbayang dalam benak pengalaman saat ke RSUD beberapa bulan lalu, antrian di poli jantung sangat penuh dan aku tak kebagian tempat duduk.
Ketika esok hari menjelang, aku dan suamiku sudah bersiap semenjak lepas subuh, berniat untuk merilekskan diri dengan memasrahkan semuanya kepada Allah.
"Ya Allah aku pasrahkan hariku padamu, biarkan Allah yang memudahkan." Batinku dalam hati.
Jarak dari rumah ke RSUD sekitar 26 km dan itu membutuhkan waktu perjalanan menggunakan bus mikro selama satu jam. Aku berangkat bersama suamiku, namun suamiku berangkat terlebih dahulu dengan menggunakan sepeda motor. Sedangkan aku naik mikro karena kondisi kehamilanku yang tak bisa diajak perjalanan jauh dengan motor.
Suamiku sampai di RSUD setengah jam lebih awal daripada aku. Aku memperoleh antrian 147 untuk antrian BPJS dan nomor 27 untuk antrian pasien umum. Saat itu aku berniat untuk ke dua poli yakni poli jantung dan psikologi. Sesampainya disana antrian umum sudah menunjukkan angka 29 , maka aku segera ke loket dan segera setelah itu aku bisa langsung dapat ke poli psikologi. Sedangkan ku lihat di antrian BPJS masih nomor 40-an kalau tidak salah. Maka aku bersegera pergi ke poli psikologi.
Sesampainya disana aku dipanggil dan dapat nomor urut pertama. Aku berada di poli psikologi selama setengah jam. Ketika aku balik ke loket antrian BPJS,alhamdulillah nomor antrianku belum dipanggil. kulihat baru sampai nomor 125. Beruntung banget, aku sudah bisa ke poli psikologi dan sekarang saatnya ke poli jantung. Aku hanya menunggu sekitar 15 menit hingga no antrian BPJS ku dipanggil.
Akhirnya, dipanggil juga dan aku diminta untuk tes sidik jari. Waduh tes sidik jari kan biasanya aku paling zonk. karena jariku kering sehingga tidak terdeteksi sidik jariku. Namun alhamdulillah setelah beberapa kali, akhirnya bisa terbaca juga. Lanjut deh aku pergi menuju ke poli jantung. Alhamdulillah bisa dapat tempat duduk karena sepi banget. Aku dapat urutan nomor 15.
Alhamdulillah semua proses di RSUD mudah, aku juga sudah selesai sebelum dhuhur. Alhamdulillah ini berkah memasrahkan segala urusan pada Allah tanpa mengesampingkan usaha. Maka nilai inilah yang nantinya akan aku ajarkan pada bayi yang kini sedang aku kandung.
Family project terbesarku adalah menyiapkan anak-anakku kelak menjadi anak-anak shalih-shalihah yang juga para penghafal Al-Quran. Aku ingin rumah yang aku, suami dan anak-anakku kelak tinggali akan menjadi rahim bagi para penghafal Al-Quran.
Nah salah satu hal atau kegiatan yang aku rencanakan dan sedang berusaha aku implementasikan adalah menyetel murotal 24 jam. Hehe namun saat ini baru berjalan beberapa saat saja. Aku ingin apa yang selalu didengarkan oleh anak-anakku kelak adalah lantunan ayat suci Al-Quran.
Tadi aku baru mencoba sekitar satu jam. Hehe baru 1/24 nya untuk bisa terus menyetel ayat suci Al-Quran. Semoga nanti pas dedek sudah lahir bisa istiqomah untuk menyetel 24 jam Al Quran.
Dalam rangka mengasah kecerdasan spiritual dan membangun suasana yang religius dalam keluarga maka salah satu kegiatan dalam family projekku berikutnya adalah menuntut ilmu syar'i tiap harinya. Kalau menurut ustadz Khalid Basalamah usahakan tiap hari itu ada ilmu baru yang didengarkan dan diamalkan. Daripada di mobil menyetel suara musik maka coba ganti dengan audio kajian ilmu syar'i. Apalagi sekarang ini menuntut ilmu itu guampanggg pake banget cukup dengan menggerakkan ibu jari jempol, ilmu yang kita inginkan sudah tersedia di layar kaca. Daripada di youtube streaming program yang unfaedah mending streaming kajian ilmu syar'i.
Sekarang Allah itu kasih kemudahan sekali untuk kita menuntut ilmu tapi masih aja disia-siakan. Ampuni aku Ya Allah. Ulama-ulama dulu hanya untuk belajar satu hadits saja harus melewati gurun pasir dengan jarak tempuh bilangan bulan. Ya Allah rasanya malu sekali dan selama ini banyak waktu yang terbuang sia-sia :(
Kegiatan dalam family projek ini adalah mendengarkan setiap harinya minimal satu kajian. Sebenarnya ini sudah ada di life planku tapi masih belum istiqomah. Tadi pagi sudah mulai lagi dan mendengarkan kajiannya bersama suami saat sarapan pagi. Kebetulan waktu itu ada tabligh akbar di purbalingga yang diisi oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, salah satu ustadz favorit hehe. Qodarulloh emang gak bisa ikut, eh alhamdulillah dapat rekamannya di grup komunitas mutiara sunnah. Temanya menarik lagi, yakni masalah pun terurai.
Dalam rekaman tersebut sebenarnya hidup itu penuh masalah. Tidak ada orang yang hidupnya lempeng-lempeng aja. Semua orang akan diberikan masalah dan diuji. Allah apabila menyayangi hamba-Nya maka akan diberikan ujian. Nah, kadang kalau kita ada masalah kita ngerasa menjadi manusia paling buruk dan sengsara sedunia. Padahal andai kita tahu bahwa rahasia agar masalah terurai adalah mempunyai ilmu tentang masalah tersebut. Makanya kita diminta untuk terus belajar. Rahasia berikutnya adalah dengan mengedepankan tauhid kepada Allah. Masya Allah.
Setelah kemarin memutuskan untuk bisa membiasakan diri dalam mewujudkan visi besar yakni mempunyai anak-anak ahlul quran, hari ini mulai mencoba mempraktekkanya. Kebetulan di rumah ada saudara perempuan usia 5 tahun. Nah aku mencoba untuk mulai menerapkan apa yang nantinya akan aku terapkan kepada anak-anakku kelak.
"Mba nanti aku murojaah 10 surat ya." Kata Nadhia kepadaku yang masih menyelesaikan dzikir setelah sholat.
"Iya sabar ya dek, mba lala dzikir dulu."jawabku
Setelah aku selesai dzikir dan sholat ba'diyah , aku mulai semangat mengajak Nadhia. Awalnya semangatnya nadhia sudah menurun dan bersiap untuk memainkan HP sembari menungguku. Dengan berbagai macam rayuan aku mencoba merayunya.
Akhirnya nadhia mau murojaah walau tidak sampai 10 surat. Setelah murojaah surat Al-Quran aku mencoba menanamkan adab dan akhlak ketika membaca Al-Quran dan berlaku kepada orang tua. Nadhia mendengarkan dengan menimpali ucapanku dengan balasan yang polos sembari ia duduk di dalam kardus.
Semoga nanti ke depan bisa istiqomah dalam mewujudkan projek besar memiliki anak-anak ahlul quran.
"Mba nanti aku murojaah 10 surat ya." Kata Nadhia kepadaku yang masih menyelesaikan dzikir setelah sholat.
"Iya sabar ya dek, mba lala dzikir dulu."jawabku
Setelah aku selesai dzikir dan sholat ba'diyah , aku mulai semangat mengajak Nadhia. Awalnya semangatnya nadhia sudah menurun dan bersiap untuk memainkan HP sembari menungguku. Dengan berbagai macam rayuan aku mencoba merayunya.
Akhirnya nadhia mau murojaah walau tidak sampai 10 surat. Setelah murojaah surat Al-Quran aku mencoba menanamkan adab dan akhlak ketika membaca Al-Quran dan berlaku kepada orang tua. Nadhia mendengarkan dengan menimpali ucapanku dengan balasan yang polos sembari ia duduk di dalam kardus.
Semoga nanti ke depan bisa istiqomah dalam mewujudkan projek besar memiliki anak-anak ahlul quran.
Alhamdulillah setelah 4 bulan lalu harus kehilangan calon personil baru di keluarga kecilku, maka hari ini sudah kudapati si kecil berusia 13 minggu dalam kandunganku. Ada haru yang menyeruak ke dalam dada ketika melihat pada layar USG bahwa si kecil sudah mulai terbentuk bagian-bagian tubuhnya. Bahkan ada air mata yang hampir menetes dari pelupuk mata suami ketika melihat si kecil berenang-renang indah dalam perut ibunya. Alhamdulillah maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan.
Sebelum menikah aku sudah bertekad bahwa kelak anak-anak yang lahir dari rahimku adalah anak-anak sholeh-sholehah yang menjadi ahli al-quran. Menjadi anak-anak yang hafal dan paham Al Quran , mencintai Al-Quran dan menerapkan kandungan Al-Quran dalam kehidupan sehari-harinya. Maka sebenarnya projek terbesarku dalam pernikahan ini adalah mendidik anak-anakku kelak agar menjadi hafiz dan hafizah meskipun aku sendiri belum paham 30 juz. Tapi aku punya tekad yang besar. Sedari sebelum menikah aku sudah giat belajar berbagai macam metode menghafal, belajar rahasia daripada keluarga para penghafal Al-Quran hingga mengikuti sendiri kegiatan di karantina tahfidz. Semua itu aku lakukan untuk mendidik buah hatiku kelak.
Aku membaca buku kisah dari orang tua yang semua anaknya hafizh Al-Quran padahal kedua orang tuanya bukan seorang hafiz. Namun karena tekadnya yang kuat dan besar maka Allah mudahkan.
Rahasianya adalah disiplin waktu. Setiap hari anak-anak diberi waktu setelah subuh dan magrib untuk setor hafalan atau murojaah. Waktu tersebut tidak bisa diganggu gugat untuk kegiatan lainnya.Lalu kemarin saat aku sedang berdua dengan suami tanpa ada gadget diantara kita, aku mulai membuka percakapan
"Mas, adek kan pengen anak-anak kita kelak bisa jadi hafiz Al-Quran. Nah kita meniru salah satu rahasia keluarga para penghafal Al-Quran yakni menggunakan waktu setelah subuh dan magrib untuk menambah hafalan maupun murojaah. Nah karena si dedek belum lahir, yuk kita berdua dulu yang mulai."
Suamiku pun menyetujui usulku itu. Ibaratnya sebelum lari maraton harus pemanasan dulu. Nah inilah pemanasan kita. Kita akan membiasakan diri untuk memanfaatkan waktu magrib dan subuh untuk mengasah kecerdasan spiritual kami dengan menghafal Al-Quran. Bismillah Al Quran itu mudah, semoga Allah mudahkan :)






